<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter satu. bagian empat.

Selasa, 01 Januari 2008

Telfon gua bunyi. Sekarang Esia gua ga ada artinya. Siapa yang mau gua telfon? Tai. Gua beli ini buat dia. Tai.

Ooh. But I do hope it’s him.

Tai. Tapi. Itu namanya yang muncul. Thank you god.

“Ada apa?”

Gua jawab sekenanya. Padahal dalam hati gua, meskipun gengsi, gua penasaran.

“Hai”

Suara diujung sana berisik sekali. Dia lagi naik ojek apa gimana?

“Ada apa? Gua lagi nyetir.”

“I was just wondering..”

Khasnya dia sekali, menggunakan bahasa Inggris ketika merasa canggung. Karena kalau dalam bahasa Indonesia, dia harus pake kata aku-kamu, atau gua-lo.

wondering apa?

Gua tanya dia sekali lagi. Menjadi galak namun dibutuhkan adalah kondisi yang cukup bisa gua banggakan.

I was miserable as hell.

“what are you doing tomorrow?”

“gua nggak bisa keluar.”

Anjiiing, GR gila gua! Siapa juga yang mau ngajak gua kencan! AH TAI LAH!

“can I come to your house, then?”

Oh! he did want to ask me out! Horrreeey!

Namun yang keluar dari mulut gua adalah, “fuck, no.”

“bentar aja, I need to talk.”

Gua terdiam untuk beberapa detik, dia pikir dia siapa bisa dateng dan pergi seenak jidatnya. Kalo dia kerumah gua besok, how do i know dia nggak terus pergi kerumahnya Ninda setelah itu? Terus apa kata nyokap gua nanti? Gua udah bilang gua putus. Gua nggak pengen ada adegan sinetron dirumah gua. Hal-hal kayak ginilah yang menimbulkan pertanyaan besar buat nyokap gua. Kadang gua pengen bilang sama sama nyokap gua, "OY! Gua bisa ngurusin urusan gua sendiri"

Namun yang keluar dari mulut gua adalah, “okay.”

Tschk. Hati ama otak ama mulut ama kok ga ada yang sinkron.

Oke. Pertahanan gua sebagai cewek jual mahal emang cepet jebol kayak kondom gratisan, nggak usah protes.

five

Label:

  1. Blogger chamon said:

    beyb, the last paragraph bikin gua ngakak sekaligus tertampar deh. bagus perumpamaannya. kondom gratisan taii. bahahahah xp

leave a comment