<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter tiga. bagian dua.

Sabtu, 05 Januari 2008

Laki-laki gondrong itu diam. It was heartbreaking to see him NOT come up with an answer.

Ya elah, hal-hal nggak bisa lebih dramatis dari ini. We could be in any parking lot in the world, karena mobil gua dan dia bahkan ngak terparkir disini tapi di ruko-ruko sebelahnya dan gua harus bayar goceng, di muka, kalo bisa di muka tukang parkirnya malahan. Dan apa coba yang kita pikirkan ketemuan di tempat serame ini. Di hari sabtu jam 9 malem ini, gua rasa orang satu Jakarta lagi kepingin makan kepiting telor.

Dan seperti gua bilang, satu Jakarta lagi kepengen makan kepiting telor, karena ternyata di dalem ada ulang tahun anak Trisakti, karena dari tadi seliweran temen-temen SMA gua, yang lebih tepatnya temen SMA gua dan temen laki-laki gua yang gondrong ini, yang kuliah di Trisakti. Ah ya gitu lah.


“Haii Dita, Diego masih aja sama-sama..”

Udah ada 2 cewek dan 1 cowok yang nyapa kita. It’s been like that for the whole 30 minutes.

Terus sebelum gua sempet membantah, mereka udah ngeloyor pergi. Cipika cipiki, lalu.."dadaah gua masuk dulu ya." Well, untuk yang cowok nggak gua cium, in case you were wondering.

Diego cuma senyam-senyum aja dari tadi.

Lalu dia bilang, “do you wanna go..somewhere?”

So I said yes, dan kita jalan kaki ke tempat uber-trendy dan paling happening di kemang...

McDonalds.

Sorry, gua dan, si laki-laki yang gondrong ini, kalau dia masih orang yang sama, does not like to spend our money on money sucking places. Bule-bule can get ripped off and buy a 45.000 rupiah coffee, but not us.

Kita di Indonesia bung! Kita punya kopi kapal api! Kita punya kopi luwak (yang notabene mahal juga). Kita nggak perlu Starbucks setiap lima meter.

Tapi kita perlu McD.

Here I am saying that we hate American franchises, padahal kita berdua memuja McD. Haha. Hipokrit besar-besaran. And dont get me started on burger king, i love me a whopper!

So we sat outside.

Meskipun di McD nggak ada pemain piano atau promosi botol wine yang nggak jelas juntrungannya seharaga Rp 245,000, this felt like a date. Bittersweet.

“Yeah, I know. But I need you.”

That's all he came up with. And this was said between takes of fries. And McFlurry. At the same time.

Sebagai cewek yang punya girl power sebesar Ginger Spice dengan dress Union Jack-nya, i was defenseless. Next to me was a guy in badly need of a haircut, left hand: french fry dipped in ice cream, right hand: my hand, he would not let go.

How can you not melt?

ten

Label:

leave a comment