chapter empat. bagian empat.
Jumat, 11 Januari 2008Kalau diingat-ingat, rencana awal gue hari ini cuma minta maaf sama Pak Lim, beli koran dan nongkrong di kantin bareng temen-temen gue sampe otak gue membusuk dan sampai-sampai gue lupa nama-nama negara-negara pecahan Uni Soviet. Tapi tidak, gue tiba-tiba harus ketemu Ninda dan alhasil dari spontanitas gue yang terlalu berlebihan, gue ajak dia nonton.
Lalu apa yang terjadi pas kita nonton?
Erm. Tidak banyak. Dan terimakasih Tuhan untuk itu, karena kalo dia tiba-tiba mendekat dan ingin merasa sebagai “wanita”, gue nggak tau gue bisa nolak apa engga.
Oh.
Gue mengerjapkan mata.
Ehm.
Gue menoleh ke samping. I said I’d take her home. Jadi sekarang gue di nyetir dengan Ninda disebelah gue. Silence. Ini bukan tipe kediaman yang canggung atau nggak nyaman, tapi tipe kediaman yang “peduli setan.” Gue jauh dari peduli apakah dia akan menganggap gue ngebosenin atau enggak, menarik apa enggak, lucu apa enggak, charming apa enggak dan segala tetek bengek lainnya.
I just don’t like her that much, I really don’t.
Im just desperate, aren’t I? Every five minutes Dita would come to mind and I’d feel guilty. And then I’d feel guilty about feeling guilty.
“Isi bensin dulu ya?” Gue belok kiri ke pom bensin di Pertanian yang ada mini marketnya. Ini salah satu pom bensin favorit gue. Gue sering banget mampir kesini sama Dita, terlepas dari kita isi bensin atau enggak.
“Okay.” Ninda bahkan tidak menoleh kearah gue. Mungkin dia merasa di luar jendela ada sesuatu yang lebih menarik.
Label: diego
