<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter empat. bagian dua.

Rabu, 09 Januari 2008

Gue perlu Koran. Semua mahasiswa Hubungan Internasional perlu koran.

Tapi sebelum itu, gue ke ruang dosen di lantai dua gedung C dan mengetok pintu yang bertuliskan Lim Wijaya dan dengan setengah hati gue minta maaf ke Pak Lim karena gue ketiduran di kelas dia. Kenapa harus setengah hati? Because I wasn’t sorry at all. Gue hanya perlu minta maaf untuk menunjukkan decency gue. Decency itu penting, decency bisa mengubah nilai B+ menjadi A- dan A- menjadi A. Gue nggak pernah dapet nilai lebih kecil daripada B+, dan gue harap hal-hal akan tetap seperti itu sampai gue lulus.

I had to assure him it wasn’t because he was boring me to death.

But then again, I wasn’t a very good liar.

Ketika gue turun dari ruang Pak Lim dan berniat ke kantin –karena disitulah anak-anak yang jual koran biasanya nongkrong-- gue bisa mencium adanya masalah, dan masalah ini berbau Escada Island Kiss.

“Diegoooo!”

Out of nowhere, shows up this girl. Dengan sepatu ber-hak-nya yang membuat suara setiap kali dia jalan dan rambut lurus ekstenso (ini gue juga ga begitu ngerti artinya, tapi si Dita bilang kalo ada rambut yang lurus banget secara tidak natural, berarti rambutnya di ekstenso) sampai ke punggung dan bajunya yang provokatif dan gayanya yang flamboyan..yeah I know her. Dia temen SMA gue dan dia kuliah di jurusan Ilmu Politik.

“Eh, Ninda.” Gue nggak tau ini setengah hati atau tidak, tapi bibir gue membentuk senyum. Bahkan bukan hanya sekedar senyuman tapi lidah gue juga tiba-tiba punya otak sendiri dan tanpa gue sadari membentuk kata-kata, “Udah makan belom?”

“Belomm, makan yuk?”

Giginya yang tertata rapi dan gusinya yang berwarna pink dan poninya yang menutupi mata..

Jadi gue bilang “yuk” dan mengikutinya ke kantin layaknya anak anjing dikasih tulang sapi impor dengan densitas tinggi.

Rasanya gue nggak perlu koran lagi sekarang.

thirteen

Label:

leave a comment