<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter empat. bagian tiga.

Kamis, 10 Januari 2008

Kantin fisip. Jam seharusnya anak kuliah mengikuti kuliah.

I offered her a cigarette.
She took it. I even light it for her.

Jadi kita berdua duduk di kantin dan menunggu pesanan, meskipun bukan jam makan siang tapi kantin cukup penuh.

Ninda duduk di depan gue. Gue menoleh-noleh ke samping. Terlihat duduk berdua sama Ninda bukan hal yang paling baik untuk reputasi gue. Di meja depan gue, temen satu jurusan gue yang namanya Dana nyengir-nyengir dan melakukan gerakan mendongakkan kepala dan melihat gue dengan tatapan sok tahu-sama-tahu.

What the hell.

I understand this girl is trouble. Dia punya mantan lebih banyak daripada jumlah anak HI angkatan gue. Lo pasti mengira gue bilang gitu sebagai metafor kalau dia suka gonta-ganti pacar, tapi enggak. Apa yang gue bilang adalah fakta statistik karena anak HI tahun ini berjumlah 39 orang. Ninda bisa buka fakultas baru untuk menampung mantan-mantannya. Ninda bisa mengorganisir sebuah pertandingan bola besar dengan pemain, wasit, orang yang jaga garis, komentator yang terdiri dari mantan-mantannya dan masih sisa beberapa orang untuk menjadi penonton.

Kalo lo buka kamus, jangan kaget kalo lo lihat foto dia sebagai perwujudan dari kata promiscuous.

Sebenernya dia nggak seburuk itu, dia cuma misunderstood sedikit. Tapi pemikiran yang seperti inilah yang berbahaya karena..

“Go,”

Ninda memecahkan lamunan gue.

“Ya?” Gue mengetukkan rokok di bawah meja.

“Lo putus ya ama Dita?” Ninda ngiket rambutnya membentuk gulungan.

“Iya, bulan lalu.”

“Rapi gak?” Ninda nanya ke gue sambil menoleh ke samping.

“Apanya? Putusnya?” Gue mengernyitkan jidat.

“Rambut guee. Rapi nggak?”

Ini adalah trik paling lama yang digunakan cewek-cewek untuk membuat cowok-cowok melihat fisik mereka satu detik lebih lama dan merasa terpaksa untuk mengatakan suatu kata pujian seperti “rapih kok”, atau “cantik kok”, atau bahkan “gila lo seksi abis kalo rambut lo digituin..KOK.”

Jadi gue mengikuti buku panduan dan berkata, “rapih kok.”

“Kenapa putusnya?”

Makanan kita dateng, dan gue ceritain sama dia menurut gue kenapa Dita mutusin gue.

And then I asked her if I could treat her to a movie, you know, just to say “thanks for listening”?

She said yes, so I’m skipping my next class.

fourteen

Label:

leave a comment