<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter dua. bagian satu.

Kamis, 03 Januari 2008

jumat malam. parkiran warnet di Jl. Lamandau.


Nama gue Muhammad Diego Lontoh. Sejak kuliah, rambut gue gondrong. Sebulan lalu gue diputusin cewe gue. Secara teknis berarti harusnya gue nggak refer dia jadi cewe gue lagi sekarang, tapi bodoin amat. Sejak itu, I can’t hold down food. Gue suka sepatu yang bahannya dari canvass dan gue suka gambar sendiri motifnya. I suck at drawing. Rambut gue keriting. Kayak rambutnya Dita, pacar gue yang mutusin gue itu. Gue suka main CS dan minum bir. Naik sepeda dan benerin mobil gue. Gue suka susu Ultra dan cracker Senbe..and did I mention gue suka banget sama cewe yang namanya Anindita Hariadi? See, there was never anything extraordinary in my life, except her.

Di tangan gue ada dua handphone. 0 ditangan kiri dan 2 ditangan kanan. Layaknya anak-anak jaman sekarang, 1 handphone nggak cukup. Lo perlu GSM buat…entah buat apa, sama CDMA buat nelfon murah. CDMA gue, kembaran sama punya Dita. Sejak sebulan yang lalu, Dita bukan pacar gue lagi. Anjing, obsessed gini gua jadinya. Cowo tai emang gue. Oh iya, gue tau sekarang GSM buat apa, buat..naro foto-foto gua sama..Dita.

Gue liat-liat lagi dan menghela nafas di setiap foto.

Gue bukan banci foto, dan meskipun gue gondrong, poni gue nggak terbelah tepat kesamping tegak lurus dan kongruen kayak anak-anak hipster jaman sekarang. Ah, emangnya kenapa kalo gue jadi anak jaman sekarang. Gue emang anak jaman sekarang, kan? Buktinya gue hidup di jaman sekarang kan? Hanya saja gue nggak punya kaos band seharga 300ribu dari Cherokee dan memakai keffiyeh dan menghabiskan duit orang tua gue. I’m not making sense am I? Sorry. Mungkin tadi gue kebanyakan minum. Mungkin. I cant tell you how much beer I had, cause I don’t even remember. I can’t remember. Or maybe it wasn’t even the beer. Mungkin karena Paramex campur Kratingdaeng. I love energy drinks. Lipovitan, Extra Joss I’d drink them all. I even got a little addicted to cough syrup once because of the taste. Just once.

Seharusnya gue nggak liat-liat foto. Karena di setiap foto itu gue terlihat euphoric. Like I was on drugs, except I wasn’t. Dita bikin gue high, secara natural. Pictures at her house, at my house. Pictures at parties. We used to go to a lot of parties in high school. Kita selalu dateng telat dan hanya datang buat makan. Sometimes we wouldn’t even be invited, but who notices? Little thrills. Kalo udah kenyang, we’d go to the parking lot and smoke. We’d have serious, life defining conversations in the car after that. At every place we’ve been to, the parking lots are the best spot.

Nggak ngerti kenapa, beberapa bulan yang lalu dia udah mulai bosen kayanya sama gue. She’d fucking look out the window when I drive her home. She’d not pick up my call. She’d say she fell asleep. Dia bilang dia kemaren tidur jam 8 malem.

Satu hal yang gue tau dari cewe gue ini, dia ngak pernah tidur.

six


Label:

leave a comment