<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter empat. bagian satu.

Rabu, 09 Januari 2008

kamis. dua hari yang lalu. kampus.


Nama gue Diego. Right now somebody’s shaking the shit out of me. Ahh. Ga tau apa gue hampir mimpi basah..

Didepan gue berdiri laki-laki tua bermuka oriental bergaya parlente dan kelihatannya berdompet tebal. Where was I again? Politik Global Cina.

Kuliah.

Oh iya.

Oh fuck.

“Diego, bapak ulangi ya, jadi menurut kamu, defisit perdangangan AS terhadap Cina itu tidak ada hubungannya dengan perang AS-Irak?”

Pak Lim berdiri tepat di depan meja gue. I must have fallen asleep again, karena di lengan jaket gue ada sedikit noda gelap. Bekas iler mungkin atau keringet. Atau iler dan keringet.

Mata gue menyipit. Pak Lim bukan orang jahat, jadi mungkin dia benar-benar mengira gue mimpi tentang defisit perdagangan AS di tidur gue.

Gue bisa ngerasain semua mata tertuju ke gue. Anak-anak yang didepan menoleh kebelakang. Anak-anak yang dibelakang, hampir dapat gue pastikan sedang bermantra untuk membakar punggung gue, karena rasanya punggung gue panas sekali.

Gue menyipit lagi dan duduk tegak.

“Erm..menurut saya, eh maaf, bukan menurut saya, menurut fakta yang ada, anggaran untuk perang Irak itu tidak lebih dari 2% dari anggaran belanja AS, jadi menurut saya lebih dikarenakan oleh economic boom di Cina yang mengakibatkan mata uang Cina menguat, yang berdampak,” gue berhenti sebentar untuk alasan dramatis, ”pada kenaikan harga barang yang diekspor menjadi lebih mahal.”

Sebelum Pak Lim bisa menjawab, gue menambahkan, “Bapak tau sendiri sekarang ekonomi Cina pertumbuhannya nomor satu di dunia.”

Gue tersenyum, dan Pak Lim hanya mengangguk.

Gue bersandar lagi ke bangku gue.

Dan itu kira-kira meresume-kan hari-hari kuliah gue yang sangat produktif.


twelve

Label:

leave a comment