<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/5211428825295842517?origin\x3dhttp://deepsinkingfeeling.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

chapter tiga. bagian satu.

Jumat, 04 Januari 2008

sabtu malam, keesokan harinya. parkiran dcost kemang.

Nama gua Dita. I had a boyfriend once, namanya Diego. Gue tipe orang susah keluar, karena nyokap gue tipe orang yang, “anak perempuan sebaiknya dirumah.” But I always manage to get out of the house. Most of the time. Gua pengen banget bilang gua antisosial karena disengaja, but then I would be a hypocrite for all the time that I’m fed up with being alone. But I already am a hypocrite. Anindita Hariadi, adalah seorang hipokrit.

Diego nelfon kemaren. He said he wanted to come to my house. Lalu gua berpikir, gua nggak pengen ada adegan sinetron di rumah gua, so I told him, I'd meet him somewhere.

Dan sekarang, gua lagi berdiri di tengah-tengah hiruk pikuk tukang parkir, supir dan pengunjung yang belom dapet tempat.

Tapi gua ngak peduli semua itu, mata gua cuma tertuju sama Diego.

“Aku perlu kamu. Thing’s been crazy with my parents. You know, when my dad left and all.. Nyokap nggak ngomong sama aku lagi..Dia..Ninda. Ya Tuhan. Dia cuma temen curhat. Ive only gone out with her once.”

Dan sekarang. Gua lagi berdiri di depan laki-laki gondrong dengan sepatu Converse canvas putih bertuliskan “bonnie” di sepatu kiri dan “clyde” di sepatu kanan. Norak as fuck, but we made that shoe together.

“Kenapa kamu merasa perlu untuk bilang semua ini ke aku? We're done.”

This was my victory speech right here, dengan tangan dilipat dan alis gua naik sebelah, saat itu gua merasa punya lebih banyak girl power dari pada Agnes Monica lagi naik Vario.

Cuma gua yang tau apa isi hati gua, yang bunyinya kira-kira begini : "i love you. say you want me back, cause i'll say yes."

That and this deep sinking feeling in my stomach.

nine

Label:

  1. Blogger ojochan said:

    di, usul dong:

    1) ganti template jadi sesuai ama cerita lo. ato yg lebih colorful lahh.. biar ga terlalu plain (yg gratisan banyak yg bagus kok kalo lagi males design)

    2) listing chapter jgn di-group per bulan. langsung list aja. di-group bikin repot, tiap lg ke blog yg ini, gue musti klik tahun dulu, klik bulan, baru nemu listing-nya. dan di tiap entry kan ga ada link ke previous chapter-nya, cuma ada ke next chapter-nya.

    ok ok?

  1. Blogger diandra aditya said:

    oke ndar! thanks beb..

leave a comment